Tampilkan postingan dengan label Meditasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meditasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2020

MEMAHAMI SEMEDI DAN TRANSFORMASI ENERGI

Semadi atau semedi adalah menghilangkan kehidupan jasad agar supaya seseorang dapat merasakan rahsaning gesang atau kehidupan sukma. Dengan sarana mengolah rasa disebut sirnaning papan lan tulis. Yakni jumeneng rasa jati yang benar-benar nyata, pasti dan weruh tanpa tuduh (menyaksikan sendiri tanpa referensi), atau menyaksikan “sesuatu” tanpa melibatkan badan wadag (akal-budi/ rasio/ pikiran/ imajinasi/mata-wadag). Keberhasilannya dengan cara meredam gejolak nafsu jasadiah, dan dengan mengolah gerak-gerik anggota badan.

Kehidupan jasad memiliki kesadaran yang rendah, sementara itu kehidupan sukma memiliki kesadaran yang tinggi. Kesadaran jasadiah sifatnya rentan oleh pengaruh nafsu-nafsu, di mana pikirannya terganggu oleh imajinasi rasio. Dalam kehidupan sukma itulah terletak kesadaran yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kesadaran jasad. Dapat digambarkan sukmanya keluar dari badan wadag atau jasad. Dalam kondisi demikian kesadaran jasadiah tidak lagi bisa mendominasi dan memanipulasi kesadaran batin. Kesadaran sejati yang ada pada kehidupan sukma akan membersihkan batin dari segala polusi dan imajinasi rasio dan nafsu-nafsu negatif. Pemahaman ini merupakan gambaran dari lampahan Sri Kresna di Dwarawati atau sang Arjuna yang meraga sukma. Untuk kita perhatikan semua, bawa cerita ini sekedar dijadikan sebagai perlambang atau kiasan yang memudahkan pemahaman akan hakekat dari semedi. Adapaun tujuan melakukan semedi tidak lain untuk mengetahui alam kajaten atau kwahana kesejatian, yang sungguh-sungguh nyata dan ada di luar nalar atau akal budi kita.


SEMEDI & KESADARAN BATIN

Dalam upaya semedi dapat terjadi kegagalan dan keberhasilan. Kegagalan biasa terjadi dalam awal-awal latihan semadi namun lama kelamaan kita akan menemukan irama atau “frekuensi” yang dirasakan sangat “ajaib”. Bagi yang berhasil melakukan semadi pun ada dua kemungkinan yang berbeda tataran keberhasilannya. Kemungkinan yang pertama, meskipun berhasil dalam semedi namun seseorang belum mencapai puncak kesempurnaan semedi.
Raga telah berhasil “dimatikan” sehingga yang terasa hanya getaran dahsyat dalam rasa. Getaran itu bersumber dari pusat kehidupan (atma) yang terletak pada susuhing angin/jantung, lalu menjalar ke seluruh “badan”. Bukan “badan” jasadiah semata, namun getaran itu terletak dalam badan halus/metafisik. Bila dirasakan sepintas lalu seolah badan wadag lah yang bergetar. Getaran berbeda dengan rasa gemetaran. Jika dikonotasikan sebagai prana ia sama-sama bersumber dari getaran rasa sejati. Bagi pelaku semedi yang masih berada pada tingkat ini hendaknya jangan merasa pesimistis karena tetap bisa merasakan berbagai keajaiban yang akan terjadi dalam wahana kesadaran semedi. Misalnya muncul bayangan atau gambaran gaib yang dapat menjelaskan sesuatu rahasia alam atau sebagai pralampita yang dapat menjadi petunjuk akurat dan tepat terhadap pelaku semadi. Kemungkinan kedua, pelaku semedi dapat mencapai tataran sempurna atau kesempurnaan.

Parameter kesempurnaan terjadi bilaman sukmanya benar-benar lepas dari badan wadagnya sendiri. Sukma dapat melanglang ke dalam buana gaib, menjelajah dalam ruang-ruang gaib yang berada di luar akal budi (jasad) yang menemukan kesadaran tinggi. Inilah yang disebut rahasia meraga sukma. Namun bagi yang berhasil meraih kesempurnaan dalam semedi –yang bermuara pada kejadian raga sukma– hal ini menjadi nilai tambah yang sangat bermanfaat. Meraga sukma bermanfaat besar untuk memperoleh kesadaran tinggi untuk memahami being dalam eksistensi noumena atau eksistensi di alam gaib.
Tentu saja kejadian ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang yang selalu dahaga dunia spiritual. Karena pelaku semedi akan memperoleh kesadaran tinggi dan dapat mengetahui hal-hal yang orang lain tidak ketahui/sadari. Mengapa kesadaran tinggi diidamkan kebanyakan orang, tidak lain karena kemuliaan hidup yang sejati menuntut adanya kesadaran tinggi terlebih dulu.
Tidak menjadi masalah bila kesadaran tinggi kita berasal dari referensi orang lain, kitab suci, maupun buku pedoman. Hanya saja bila kita merasakan sendiri pengalaman gaib secara langsung akan menjadikan sebagi pengalaman hidup yang sangat sensasional dan berharga. Hal ini bukan lah iming-iming namun sungguh apa adanya.


KUNCI KEBERHASILAN

Kesadaran sejati atau kesadaran batin dapat dicapai oleh siapapun tanpa tergantung agama dan ajarannya, asalkan seseorang mampu memerdekakan diri dari hegemoni kekuasaan nafsu negatif yang bercokol dalam jasadnya sendiri. Ibaratnya nafsu adalah kulit yang harus dikupas agar kita dapat menikmati daging buahnya. Nafsu jasadiah seumpama cadar bagi mata batin, bila dibuka cadarnya maka mata batin akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan semua eksistensi gaib akan dapat dilihat dengan jelas. Pengendalian hawa nafsu bukanlah hal mudah ia perlu latihan terus menerus dengan kesabaran dan ketulusan. Tanpa bekal itu akan sulit mencapai tataran kesempurnaan dalam olah semedi. Dalam olah semedi pun harus dilakukan dengan rajin, sabar, ulet dan telaten jangan mudah menyerah dan cepat bosan. Biasanya jika sudah merasakan keberhasilan awal lantas akan menjadi ketagihan untuk lebih giat melatih diri. Dua langkah utama yang menentukan keberhasilan yakni : mengendalikan nafsu, membersihkan hati dan batin dalam perbuatan sehari-hari dan rajin olah badan dalam tatacara semedi.

Teori Merubah Frekuensi

Kesadaran jasad jika diumpamakan sebagai gelombang AM radio, kejernihan dan kejelasan suaranya teramat rentan terjadi distorsi akibat gangguan kondisi cuaca alam yang buruk. Gelombang AM diumpamakan sebagai kesadaran jasad atau akal budi, sementara cuaca alam yang buruk seumpama gangguan imajinasi akal-budi dan nafsu. Artinya kesadaran ragawi atau jasad mudah sekali terkena tipu daya “setan” dalam hal ini nafsu dan imajinasi kita sendiri. Lain halnya dengan kesadaran rahsa sejati, diumpamakan gelombang FM radio. Suaranya jernih, bersih dan jelas.
Gelombang FM juga tidak terpengaruh oleh cuaca alam yang buruk. Sekalipun terjadi angin ribut, hujan lebat dan guntur tidak akan menjadi gangguan kejernihan suara. Karena gelombang FM terpisah dan berbeda dari gelombang cuaca buruk. Ia berada dalam koridor frekuensi yang terpisah dari berbagai gelombang cuaca alam. Artinya, kesadaran rasa sejati terpisah dan tidak terpengaruh oleh imajinasi akal budi dan nafsu-nafsu negatif. Tugas semedi adalah mengalihkan gelombang atau frekuensi kita dari frekuensi AM ke FM.
Dari kesadaran ragawi/jasad ke kesadaram rasa sejati (rasa pangrasa/indera ke-enam). Kelebihannya adalah dapat menangkap sinyal dari frekuensi rendah hingga yg paling tinggi sekalipun. Segala yang tadinya rahasia dan tertutup oleh nafsu dan rasio menjadi tersingkap semuanya tampak jelas.


SEMEDI ; RADIO TRANSISTOR


Cara lebih mudah membayangkan fungsi olah semedi, saya mengambil analogi seumpamanya kita merubah diri kita menjadi radio transistor. Sebenarnya dalam ruang udara terdapat banyak sekali berbagai macam gelombang suara dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Contohnya antara lain suara jangkrik sawah yang tidak bisa masuk jika direkam dengan pita kaset biasa. Atau suara kelelawar yang memiliki suara ultrasonik yang frekuensinya sangat tinggi sehingga tidak bisa ditangkap dengan telinga manusia. Begitu pula suara ikan paus yang dapat memancarkan gelombang suara sangat jauh namun sulit ditangkap telinga manusia pula. Begitu juga gelombang suara yang dipancarkan antena transmisi stasiun radio tidak akan bisa ditangkap oleh telinga manusia sebelum dirubah dengan alat bernama radio transistor yang berfungsi merubah gelombang suara menjadi berfrekuensi yang sepadan dengan daya tangkap kuping manusia.
Sebelum dirubah oleh alat elektronik radio transistor, gelombang suara bagaikan suara eksistensi gaib. Nah analogi ini menjelaskan bila semedi ibaratnya merubah diri kita menjadi “radio transistor” yang dapat menangkap gelombang suara menjadi bunyi-bunyian. Artinya semedi merupakan sarana agar supaya kita dapat mendengar dan menangkap frekuensi yang terdapat di alam gaib. Dapat pula diistilahkan kita sedang menselaraskan antara “frekuensi jasad” kita dengan frekuensi gaib.

Sebenarnya yang diselaraskan bukan frekuensi jasadnya dengan frekuensi gaib melainkan pindah chanel dari frekuensi “AM” ke frekuensi “FM”. Ke mana kita musti beli frekuensi FM ? Tidak perlu repot, karena di dalam setiap diri manusia telah terdapat frekuensi “FM” bawaan lahir yang sepadan/sinergis dengan “frekuensi” alam gaib, yakni frekuensi yang dimiliki rahsa sejati (rasa pangrasa). Tidak hanya manusia bahkan binatang malah lebih tajam “indera keenam” nya ketimbang manusia karena binatang tidak memiliki hawa nafsu. Kita dapat mencermati dari ayam, anjing, angsa dan binatang lainnya yang memiliki frekuensi sepadan dengan dimensi gaib. Binatang-binatang tersebut sering berlari ketakutan dikejar sesuatu yang tidak tampak oleh mata wadag.


TATA CARA SEMEDI

Semadi atau semedi, artinya sarasa = rasa tunggal = maligining rasa = rasa jati = rasa pangrasa. Disebut pula dengan maladihening, mesu budi, manekung, puja brata, tarak brata, dan masih banyak lagi istilahnya. Pada intinya olah semedi melibatkan dua kegiatan,pertama yakni ; SOLAH atau perilaku anggota badan dalam upaya “menidurkan” atau “mematikan” anggota raga untuk merasakan hidupnya rasa sejati. Kedua yakni BAWA atau perilaku batin, dengan cara mengolah rasa agar mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi. Atau menghidupkan batin kita yakni merasakan atma (energi hidup) dalam sukma sejati. Agar tidak rancu perlu saya tegaskan perbedaan antara sukma sejati dengan rasa sejati yakni ; sukma sejati dapat dilihat wujudnya, sedangkan rasa sejati hanya bisa dirasakan sebagai energi atma/ hidup/ kayun/ kayu/ chayu. Sukma sejati adalah roh/ruh/ruhulah sementara rasa sejati adalah sir/sirulah (lihat thread : Maklumat Jati). Terdapat banyak sekali tatacara semedi, misalnya sembari duduk bersila, bisa juga sembari baringan atau merebahkan badan. Berikut ini saya jabarkan tata cara semedi sambil membaringkan badan.

Carilah tempat yang nyaman, tenang, dan aman agar konsentrasi anda tidak terganggu oleh suasana lingkungan sekitar. Jangan melakukan semedi di tempat yang berbahaya misalnya tepi sungai, tepi jurang atau di antara semak belukar. Hal ini untuk menghindari resiko jatuh terperosok termasuk terjadinya serangan binatang buas, serangga berbisa dsb. Bisa pula di lakukan di dalam rumah atau kamar tidur anda.

Carilah waktu watu saat yang tenang biasanya setelah beranjak larut malam. Keheningan suasana atau suara alam yang lembut justru justru sangat membantu dalam menciptakan konsentrasi. Setelah menemukan tempat yang tepat lalu baringkan badan anda…

Posisi badan telentang menghadap ke atas, seperti mau tidur. Jangan ada anggota badan yang posisinya kurang nyaman. Seluruh anggota badan “jatuh” menempel di pembaringan tanpa ada penahanan sedikitpun. Seluruh otot dan syaraf harus rileks atau loss. .

Tangan sedekap atau sedakep (sedeku) dengan posisi lengan atas tetap menempel di lantai/tempat berbaring sementara lengan bawah diletakkan di atas dada. Jari-jari tangan saling mengunci. Atau bisa juga agar lebih rileks, tangan diluruskan ke bawah (arah kaki), kedua telapak tangan menempel di paha kiri kanan sebelah luar.

Mata terpejam seakan anda sedang bersiap menidurkan diri. Bola mata tidak boleh bergerak-gerak, tahan dalam posisi pejam dan bola mata diam tidak bergerak, disebut meleng.

Kaki lurus rileks telapak kaki kanan ditumpang di atas telapak kaki kiri disebut sedakep kaki tunggal, disebut saluku.

Posisi dan langkah-langkah di atas bertujuan untuk menghentikan daya cipta meliputi imajinasi, angan, pikiran, kemauan, gagasan. Selain itu olah pasamaden sebagai upaya menutup aliran panca indera yakni indera perasa, pendengaran, dan penglihatan. Selanjutnya samadi atau semedi seyogyanya diimbangi dengan perilaku sehari-hari dengan mengurangi makan, minum, tidur dan lain sebagainya.

Semedi merupakan salah satu cara meraih kemuliaan hidup, secara keseluruhan terdapat tujuh macam tahapan atau tingkatan “laku” yang harus dikerjakan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna, yakni :

1. Tapaning Jasad
Sopan santun dan mawas diri. Dalam olah semedi dengan cara mengendalikan / menghentikan daya gerak anggota tubuh atau kegiatannya.

2. Tapaning Budi
Menghindari angan-angan dan prasangka yang buruk. Dalam olah semedi dengan bersikap positif thinking agar pikiran menjadi bersih dan dapat membentangkan pandangan seluas-luasnya. Namun jangan biarkan imajinasi menguasai rasio anda.

3. Tapaning Hawa Nafsu
Rela, legowo, menerima apa adanya (qonaah), sabar dan ikhlas. Jangan menyakiti hati sesama. Sabar menghadapi gangguan dan godaan dari dalam dan luar. Tidak suka iri hati dan dendam. Kuat lara wirang atau dipermalukan. Dalam olah semedi dengan cara sikap tidak buru-buru, sumeleh, mengalir apa adanya.

4. Tapaning Sukma
Menenangkan jiwa dan selalu jujur pada diri sendiri dan orang lain. Bersikap dermawan. Perbuatan lahir batinnya selalu diarahkan pada kebaikan. Tanpa pamrih semua hanya netepi sifating Zat. Dalam olah semedi harus bersikap pasrah, bersandar hanya kepada Hyang Widhi. Tidak memaksa diri mencapai hasil. Namun lebih mengutamakan prosesnya yang benar dan tepat.

5.Tapaning Rahsa
Perilaku yang utama, luhur budi pekertinya. Tidak takut bila menderita, dan kuat laku prihatin. Tidak suka mengurusi (intervensi) hal yang bukan kewenangannya. Selalu mawas diri dan giat mencari ilmu hakekat. Dalam olah semedi indera perasa jasad dimatikan diganti dengan rasa pangrasa. Merasakan getaran indera ke-enam, atau rahsa sejati.

6.Tapaning Cahya
Menjaga kesucian lahir batin. Dalam olah semedi, selalu terkonsentrasi pada cahya di pangkal hidung antara kedua mata atau papasu.

7. Tapaning gesang
Selalu eling dan waspada serta mempunyai daya memahami sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau samar karena kepalsuan “kulit”. Olah semedi hendaknya selalu ditujukan untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan pribadi dan orang lain. Berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, kearah kesempurnaan hidup, manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yakni target Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu sebagai kunci untuk memahami isi Rasa Jati, untuk mencapai sesuatu yang luhur.
Maka dalam meraih kemuliaan hidup mutlak diperlukan sinkronisasi antara perbuatan lahir dan batinnya (solah dan bawa).

PATRAPING NETRA


Konsentrasi mata difokuskan pada satu titik yakni pangkal hidung, letaknya di antara ke dua belah mata, diisitilahkan papasu. Kedua belah mata terpejam, namun manik mata memandang ke arah papasu. Di situ bisa langsung tampak ada cahaya atau sinar mencorong/terang mencolok biasanya berwarna putih kekuningan. Bila cahaya di papasu belum muncul dan masih tampak gelap gulita anda harus bersabar, tunggu beberapa saat hingga cahya muncul sedikit demi sedikit lalu berubah menjadi semakin terang bahkan bisa sangat menyilaukan.

Bila posisi di atas sudah bisa anda lakukan dengan rileks, selanjutnya giliran menata nafas anda. Setelah dibarengi olah nafas yang rilek anda tinggal konsentrasikan mata pada arah papasu. Lama-kelamaan cahaya kuning terang semu keputihan semakin terang, pusatkan konsentrasi pada cahaya tersebut. Tunggu dengan sabar dan rilek hingga akan muncul gambaran seperti lorong. Tugas anda bergerak mengikuti lorong tersebut dengan perasaan.
Pergerakan dikomando oleh kareping rahsa, yakni kehendak rasa sejati. Nantinya lorong akan seperti berkelok melengkung-lengkung namun bukan menikung tajam. Lorong itu akan berujung pada wahana ruang yang sangat terang benderang. Anda seolah masuk ke dalam ruang yang sangat luas dan sulit digambarkan eksotisnya. Itulah ruang gaib.

Pada tahapan ini belum terjadi raga sukma. Peristiwa ini, kesadaran kita hanyalah sebatas berada di antara dunia wadag dengan dunia meta yang gaib. Dengan menggunakan mata batin kita menyaksikan eksistensi gaib melalui “jendela” dimensi gaib. Artinya sukma anda belum memasuki alam gaib. Namun kesadaran batin kita bagaikan energi telekinetik bisa menjelajah ke tempat atau lokasi yang kita inginkan. Di analogikan penglihatan batin kita berubah fungsi sebagaimana alat periskop yang dimiliki kapal selam. Jika diumpamakan kesadaran jasad kita bagaikan berada di dalam kapal selam yang pandangannya sangat terbatas pada obyek yang ada di sekeliling kita dalam jarak yang sangat pendek. Maka mata batin bagaikan alat periskop yang bisa digunakan untuk melihat ada apa di atas permukaan air.

Pada saat semedi minimal orang akan mendapatkan semacam ilham atau wisik yang dapat menjadi petunjuk untuk mengambil keputusan atau apa yang harus dilakukan dan dihindari. Bila latihan olah semedi dilakukan dengan telaten, lama-kelamaan akan mencapai tahap selanjutnya dimana sukma akan keluar dari badan wadag. Pada tahap ini anda akan merasakan keanehan-keanehan ;
Merasakan seolah badan kita tidak bernafas dan indera perasa tidak merasakan sesuatu apapun, namun kita sadar bahwa diri kita tetap lah hidup.

Pada tahap ini kadang terdengar suara-suara (gaib) yang terdengar asing dan aneh. Suara-suara tersebut berasal dari dimensi lain. Karena kesadaran anda telah berada di ambang batas antara dunia wadag dengan dunia gaib. Suara-suara tersebut bukanlah sengaja mengganggu justru menunjukkan bila anda sudah mulai berhasil merubah diri anda menjadi “radio transistor”. Nah, pada tahap ini terkadang anda dapat menangkap petunjuk, sasmita, pralampita yang berasal dari para leluhur. Anda juga tidak perlu khawatir digoda setan/makhluk halus/hantu/demit/jin dsb, karena langkah semedi anda yang mematikan nafsu ragawi sudah cukup menguatkan mental dan batin anda, dan menjadi pagar gaib yang cukup kokoh.
Melihat badan kita sendiri dari luar tubuh. Biasanya kita melihat diri kita seolah sedang tertidur pulas, atau sedang duduk bersila sesuai dengan posisi sewaktu kita melakukan semedi.
Bila sudah terjadi posisi demikian, anda janganlah panik atau takut, tetap kendalikan semuanya melalui kehendak rasa anda sendiri. Misalnya anda ingin menjauh dari tubuh atau ingin menyatu kembali dengan tubuh semua perintah di bawah kendali sang rasa sejati, yakni kehendak rasa.
Antara sukma anda dengan badan wadag bagaikan mengandung energi magnet yang saling tarik menarik. Bila anda berkehendak ingin kembali masuk ke tubuh seketika akan terasa ada energi kuat yang menyedot sukma ke dalam badan wadag. Energi tersebut saya identifikasi sebagai nyawa.

Bedanya dengan orang yang meninggal dunia, nyawa sebagai daya perekat sudah tidak ada lagi. Dapat diumpamakan “lem perekat” antara sukma dengan badan wadag sudah hilang, sehingga terjadi pelepasan/perpisahan kekal antara sukma dengan badan wadag.
Selama badan anda sehat wal afiat tidak perlu khawatir kelepasan.. J karena eksistensi nyawa itu prinsipnya tergantung dari kondisi kesehatan atau performance badan anda sendiri. Bila sukma anda berkelana tidak akan terjadi kematian selama nyawa masih bekerja sebagai “lem perekat” atau penghubung antara sukma dengan jasad. Untuk memudahkan pemahaman raga sukma dapat saya contohkan dengan orang yang sedang main layang-layang. Layang-layang diibaratkan sukma sejati kita, tali layang-layang adalah nyawanya, dan orang yang memainkan layang-layang adalah badan wadagnya. Antara layang-layang dengan seseorang yang memainkan masih tetap terhubung oleh tali layang-layang tersebut.
Bila anda merasa sukma sudah berada di luar tubuh hendaknya melatih untuk bepergian dalam jarak dekat dulu, baru kemudian semakin lama semakin jauh. Karena bila anda langsung berjalan jauh, terkadang mengalami kesulitan untuk kembali ke badan. Seumpama orang sedang berjalan menyusuri hutan belantara yang belum anda kenali seluk beluknya serta lupa jalan pulangnya. Hal ini sangat berbahaya, karena dalam tahap awal badan wadag anda belum kuat ditinggal sukma sejati terlalu lama. Persendian akan terasa kaku-kaku, peredaran darah tidak lancar dan tekanan darah (HB) nya bisa drop. Resiko ini yang dapat berakibat terjadi kematian.

OLAH NAFAS


Selanjutnya mulai menata irama nafas khusus diperlukan dalam olah semedi. Nafas ditarik dalam-dalam, jangan tergesa dan kasar, lakukan dengan cara yang lembut, namun kuat dan sepanjang-panjangnya nafas hingga habis. Rasakan nafas mulai memenuhi puser kemudian semakin penuh naik hingga ke dada terasa penuh sesak lalu rasakan semakin naik hingga ke cethak atau langit-langit mulut, terus naik lagi hingga ke ubun-ubun kepala. Proses masuknya nafas memenuhi puser hingga ke ubun-ubun dilakukan dalam sekali tarikan nafas. Memakan waktu antara 4-7 detik. Atau dalam hitungan normal dari angka ke 1 hingga ke 7.
Setelah nafas mencapai ubun-ubun tahan sebentar dalam hitungan 7 detik lalu keluarkan nafas melalui mulut dalam hitungan 4 atau dalam waktu 4 detik. Prinsipnya jumlah tarikan nafas harus selalu lebih besar dibanding keluarnya nafas.

SASTRA CETHA


Rasakan pula saat menahan nafas di ubun-ubun, pada awalnya terasa ringan lalu semakin lama semakin berat, jika sudah terasa berat sekali kemudian lepaskan pelan-pelan seolah menurunkan beban yang mudah pecah. Beban itu sesungguhnya pergerakan rasa jati ada pula yang menyebut sebagai tenaga dalam yang terkonsentrasi. Olah nafas demikian disebut sastra cetha; sastra adalah empaning kawruh, atau kiasan sebagai umpan ilmu. Cetha adalah antebing swara cethak. Cethak adalah langit-langit mulut tempat keluarnya bunyi. Mengapa disebut sastra cetha, yakni untuk menggambarkan olah nafas yang ditarik hingga ke ubun-ubun. Nafas bisa mencapai ubun-ubun bila cethak ditutup rapat sehingga tidak lebih dulu gembos melalui mulut. Bila nafas tidak ditahan dengan cethak hanya akan mengikuti jalannya nafas yang wajar dengan sendirinya. Nafas tidak dapat mencapai ubun-ubun hanya sampai di cethak langsung turun lagi.

DAIWAN


Daiwan atau dawan artinya mengatur keluar masuk nafas yang panjang, rileks dan penuh kesabaran, tidak kemrungsung, buru-buru. Daiwan berarti pula panjang tanpa ujung, langgeng atau abadi. Maksudnya adalah sarana hidup kita yang langgeng berada di dalam nafas kita. Nafas adalah keluar masuknya angin dalam badan seiring dengan keketeg panglampahing rah/roh. Bila kedua unsur tersebut (nafas dan roh) berhenti bekerja dinamakan mati yakni rusaknya badan wadag lalu kembali kembali ke asalnya. Maka nafas yang selalu keluar masuk badan hendaknya dipanjangkan sepanjangnya agar kita memperoleh energi kehidupan lebih panjang lagi.
Keluar masuknya nafas benar-benar dirasakan adanya energi hidup (atma/chayu/kayu/kayun) sembari mengucap mantra dalam hati/batin saja. Mengucap “hu” pada saat nafas ditarik dari puser ke arah ubun-ubun. Lalu mengucap “ya” pada saat keluarnya nafas yakni turunnya nafas dari ubun-ubun ke arah pusar. Naik turunnya nafas tadi melewati dada dan cethak. Nah, disebut sastra cetha karena pada saat mengucapkan kedua mantra hu – ya dibarengi dengan pengendalian buka tutupnya cethak untuk menahan dan melepas nafas.
Setelah masuknya Islam ke nusantara, terjadi beberapa anasir seperti dalam wirid naqshabandiyah SSJ mantra hu – ya dirubah bunyi menjadi hu – allah. Namun kemudian terdapat mazab lain di luar mazabnya SSJ, dan melakukan modifikasi mantra hu – allah menjadi haillah – haillallah, dikenal sebagai wirit satariyah. Perbedaannya, dalam tradisi satariyah ini tidak dilakukan menahan nafas, melainkan hanya bernafas seperti biasanya.

Apapun kata dan bahasa yang digunakan dalam mantra toh tidak ada pengaruh dalam keberhasilan semedi. Letak keberhasilan semedi bukan pada ucapan, namun bagaimana kita harus memahami dan menghayati makna hakekat dari hu – ya, hu – allah, maupun hailah – hailallah. Jangan terjebak oleh rangkaian kata-katanya namun konsentrasi harus di fokuskan kepada getaran Zat Mahamulia. Hu atau ha atau a atau the berarti “sesuatu”, yakni menggambarkan sesuatu yang paling dan maha, tidak lain adalah eksistensi Zat tertinggi yang tanpa nama sebagai tingkat pemahaman akan tataran hakekat Zat.

TRIPANDURAT


Satu kegiatan olah nafas dinamakan sastra cetha yakni sekali kegiatan menarik/menyedot nafas melalui hidung lalu di tahan, selanjutnya dilepas lagi lewat mulut. Setiap kegiatan olah sastra cetha, tidak perlu dilakukan terus menerus dalam waktu yang lama tanpa putus. Sebaliknya dilakukan saja secara wajar misalnya 3 kali melakukan olah sastra cetha kemudia istirahat sejenak lalu dimulai lagi. Tiga kali melakukan olah sastra cetha disebut tripandurat. Tri ; tiga, pandu ; suci, rat ; jagad/ badan. Maksudnya tiga kali melakukan olah sastra cetha dapat menghasilkan persentuhan antara makhluk dengan Sang Pencipta atau tumameng ing ngabyantaraning yang Mahasuci, bertempat di dalam ubun-ubun atau suhunan yakni ingkang dipun suwuni.
Naik dan turunnya nafas dinamakan wahana paworing kawula-Gusti. Pada saat nafas di tarik mencapai ubun-ubun atau suhunan lantas ditahan, nafas berhenti sejenak. Posisi yang demikian dinamakan ; kita jumeneng Gusti, bila nafas sudah diturunkan kembali ke pusar (sembari nafas keluar perlahan lewat mulut) kita kembali dinamakan sebagai kawula. Sampai pada penjabaran ini jangan sampai para pembaca keliru memahami. Adapun yang dimaksud manunggaling kawula-gusti bukanlah nafas kita, melainkan daya cipta. Olah semedi harus membentangkan atau merentangkan keluar masuknya nafas agar menjadi panjang. Sembari mengheningkan dan membeningkan mata, karena mata kita berasal dari rasa pangrasa atau indera ke-enam.

Begitu seterusnya hingga merasakan kemajuan-kemajuan. Ukuran kemajuan dalam latihan olah nafas bilamana mampu menahan nafas lebih lama lagi dari sebelumnya dan kuat melakukan latihan olah nafas dalam waktu yang semakin lama pula. Dengan kata lain jam terbangnya semakin tinggi.
Adapun olah semedi dapat dilakukan sepanjang masa, pada saat duduk, berdiri, berjalan, maupun saat bekerja. Namun cara yang dapat ditempuh cukup mengucap mantra hu – ya dalam setiap hela nafas keluar masuk. Tidak perlu diucap dengan lisan lebih utama ucapan mantra selalu terpatri di dalam hati menyambung koneksi antara diri sejati dengan Ilahi.

MANFAAT SEMEDI

Olah pasamaden atau ulah semedi sangat bermanfaat untuk kesehatan lahir batin, dan menjadi sarana belajar mengetahui hal-hal yang tersimpan di dalam rahasia gaib. Sehingga disebut pula sebagai sastra jendra hayungrat pangruwating diyu.
Sastra = empaning kawruh, jendra = harja-endra, harja = raharja, endra = ratu/dewa, yu = rahayu/wilujeng, ningrat = jagad/tempat/badan. Maknanya ; intisari ilmu pengetahuan sejati yang berguna untuk membangun kesadaran dan keselamatan, kesejahteraan, dan ketentraman.
Pangruwating diyu = menjaga diri dari diyu. Diyu = raksasa/denawa/asura/buta atau sifat raksasa bodoh, angkara murka dan gemar menganiaya, yakni sifat-sifat kebalikan dari dewa, sebagai lambang segala sesuatu yang baik. Maknanya ; olah semedi yang dapat menyirnakan segala hal yang buruk/jahat, gangguan, dan segala marabahaya.

Dari pengertian sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu mengandung makna yang mendalam yakni; siapapun yang tidak enggan melakukan olah semedi akan memperoleh berbagai kebaikan, dapat mengendalikan nafsu negatif, hatinya bersih, batin dan nuraninya tajam, naluri dan instinknya menjadi semakin kuat, memiliki sense of human, kepekaan sosial, kepekaan indera keenam (rahsa sejati). Bila badan sedang sakit atau dirasa tidak enak, akan menjadi sirna sakitnya. Sifat temperamental menjadi sopan santun, sabar, belas kasih dan lapang dada. Gemar bohong berubah menjadi jujur. Yang bodoh menjadi pinter. Yang sudah pinter menjadi pinter sekali. Hasil dari olah semedi dapat dikiaskan sebagai berikut ; yang sudra menjadi waesia, yang waesia menjadi satria, yang satria menjadi brahmana, yang brahmana menjadi berbadan braja berjiwa bethara. Yang gemuk jadi kurus, yang kurus jadi gemuk, yang cronges jadi tampan (J ..just kidding). Tapi jangan pesimis dulu, berkat olah pernafasan ada beberapa yang berhasil kok, yang tadinya gemuk menjadi ideal. Seperti halnya berbagai perguruan ilmu “tenaga dalam” sudah membuktikan manfaat olah semedi (pernafasan) ini terutama dalam menjaga stamina dan kesehatan.

Jika badan sehat, stamina bagus, maka jasad tidak mudah rusak, berarti dapat menghabiskan usia yang digariskan tuhan, dan tentu saja tidak terjadi “kematian prematur” akibat human error, kecerobohan dan mismanajemen dalam menjalani kehidupan ini.
“Sawarnaning kapiawon tuwin saliring godha rencana, bebaya pakewed punapa kemawon, ingkang tuwuh saking cidraning manah pribadi, punika sedaya sirna lebur dening pangastuti ulah semedi, inggih amesu cipta, mesu budi, maladihening, ulah pasamaden, sedaya punika namung kangge amurmeng pandulu paworing kawula kalawan gusti. Makaten ugi sedaya sawarnining bebaya ingkang medal saking pandameling tiyang sanes, sanadyan ugi kewan ingkang wantun angganggu damel, temtu ketaman ing wilalat, peksi miber ingkang ngungkuli temtu pejah sirna kuwandhanipun. Punapa dene tumrap sasamining titah ingkang nedya anglawan, angremehaken tuwin angluhuri kamenangan dateng sasaminipun, temtu boten badhe kalampahan. Salagi saweg purun papandengan kemawon sampun tamtu badanipun gemeter lolos otot bebayunipun. Inggih margi saking kaungkulan perbawa ingkang tansah sumunar gumawang purbawisesanipun kadosdene wimbaning purnama sada”.

Karena itu dalam kaitannya dengan olah asamaden, Ilmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Manfaat Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah tatacara, jalan atau cara untuk mencapai kemuliaan dan kesempurnaan hidup yang sejati.

Tetap diam dan amati...
Perjalanan Spiritual...🧘🏻‍♀️🧘🏻‍♀️🧘🏻‍♀️
Rahayu 🙏❣️🙏

Senin, 21 Desember 2009

Paguyuban Esa Tunggal Sejati


 Ajaran Paguyuban Esa Tunggal Sejati yang termuat di dalam Kitab Pagelaran Hidup. Kitab ini merupakan pengejawantahan dari kitab utama paguyuban, yaitu Kitab Piati dan ditulis langsung oleh sang pendiri Sri Mulyono Hartono.

Paguyuban yang berkantor pusat di Kota Salatiga ini menyebut Tuhan sebagai Sang Daya Hidup dan Sang Sejati yang harus dimengerti bukan hanya dipercaya. Manusia merupakan makhluk individu dan sosial yang dibekali pikir, rasa, dan kehendak. Tujuan terpenting dalam Piati adalah manusia dapat bermanunggal dengan Tuhannya, yang disebut juga bersejati atau manembah.

Keberadaan paguyuban ini menarik untuk diketahui oleh masyarakat karena kegiatan pertemuan mereka sampai saat ini masih rutin dilakukan meskipun jumlah anggotanya tidak sebanyak organisasi lain. Bahkan, pada acara HUT Piati (Piwarahan Agung Sejati) tahun 2016, Paguyuban Satu Jati mengundang banyak elemen, baik dari pejabat pemerintahan maupun masyarakat sekitar. Paguyuban ini memiliki salah satu kitab, yaitu kitab pagelaran hidup. Kitab Pagelaran Hidup bukanlah kitab utama yang digunakan oleh para penghayat kepercayaan Paguyuban Satu Jati. Kitab utama mereka adalah Kitab Piwarahan Agung Sejati (Piati). Hanya saja, Kitab Piati ini tidak lagi diedarkan dan tidak bisa dibaca oleh sembarang orang karena memilki struktur kalimat atau gaya bahasanya tersendiri. Menurut Bapak Koko Cahyono, Ketua HPK Salatiga dan Bendahara Paguyuban Satu Jati,  jika Kitab Piati dibaca oleh sembarang orang maka ditakutkan akan menimbulkan kebingungan dan multitafsir sehingga kitab ini tidak boleh lagi diedarkan hanya saja sebagian murid ada yang menerima nya.

Pendiri paguyuban ini adalah Bapak Sri Mulyono Hartono. Selepas masa kepengurusan Bapak Sri Mulyono Hartono (meninggal dunia) kemudian jabatan ketua paguyuban dipegang oleh sang ayah mertua, Bapak R. Soemarmo Atmodjo. Bapak Soemarmo sendiri telah meninggal dunia pada bulan Juli tahun 2016 yang lalu. Saat ini, jabatan ketua paguyuban dipegang oleh putri dari Bapak Soemarmo yang juga merupakan istri dari Bapak Sri Mulyono Hartono, yaitu Ibu Endang. Namun, perlu diketahui bahwa pengangkatan Ibu Endang sebagai ketua merupakan kesepakatan dari seluruh anggota paguyuban meskipun Ibu Endang sendiri bukan merupakan seorang penghayat. Alasan yang dikemukakan oleh Pak Koko (wawancara 29 November 2016) terkait pengangkatan beliau sebagai ketua adalah karena beliau sebagai putri dari sesepuh mereka sehingga penerusnya pun sebaiknya dari keluarga yang terdekat.

Saat ini jumlah anggota paguyuban yang aktif mengikuti kegiatan di Salatiga hanya sebanyak 9 orang. Menurut penuturan Pak Koko (wawancara, 29 November 2016), saat pertemuan rutin biasanya hanya 9 – 12 orang yang datang. Pengurus pun tidak akan pernah memaksa mereka-mereka yang tidak pernah hadir karena pada dasarnya keikutsertaan itu harus bersifat ikhlas dari para anggotanya sendiri. 

Di Kota Solo sendiri yang merupakan tempat Pak Sri Mulyono  menerima wahyu sudah tidak ada anggota maupun kegiatannya. Jumlah anggota paguyuban ini memang tidak sebanyak organisasi penghayat yang lain. Namun, mereka masih aktif dan rutin melakukan pertemuan setiap Selasa Legi dan tanggal 22 setiap bulannya. Hari Selasa Legi diyakini sebagai hari diturunkannya wahyu kepada pendiri paguyuban, Pak Sri Mulyono. Sedangkan tanggal 22 dipilih sebagai hari baik untuk berkumpul karena angka tersebut adalah angka yang relatif mudah untuk diingat oleh seluruh anggota (Koko, wawancara 29 November 2016). Mereka juga mengadakan perkumpulan atau peringatan hari ulang tahun atau hari lahirnya paguyuban setiap tanggal 6 agustus.

Simbol atau lambang dari Paguyuban Satu Jati adalah “Tunggul Jati”. Tunggul Jati ini diwujudkan dalam bentuk “bintang kepyur” (bintang yang bersinar) dengan warna kuning emas. Lambang bintang menggambarkan keluhuran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa sedangkan “kepyur” menggambarkan pancaran dari segala kebesaran Tuhan. Warna kuning adalah lambang dari kesejatian. Lima sisi pada bintang menggambarkan Lima Prana Jati Allah yang menjadi pedoman Paguyuban Satu Jati. Jadi,lambang ini berarti pancaran dari keluhuran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa yang Sejati.

Lima Prana Jati Allah itu adalah:

 (1) Allah itu ada;

(2) Allah itu hidup;

(3) Allah itu Maha Kuasa;

(4) Allah itu Satu Yang Esa;

(5) Allah itu Sempurna.

Semboyan dari Paguyuban ini adalah “Hamemetri Hayuning Jagad” yang berarti menjaga kelestarian dan keindahan dunia (jagad). Paguyuban Satu Jati senantiasa berbuat untuk menjaga kelestarian dan keindahan dunia. Mereka tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak keindahan yang ada di dunia, termasuk makhluk-makhluk di dalamnya.

Di dalam Paguyuban Satu Jati, orang yang mengucapkan syahadat tidak serta merta menjadi warga penghayat. Ada aturan lain lagi yang membuat mereka pada akhirnya menjadi penghayat. Bunyi Syahadat dari Paguyuban Satu Jati adalah:

 “ALLAH itu ada, yang hidup atas Maha Kuasa-Nya, Dialah satu Yang Esa serta Sempurna, maka hanya kepada-Nya lah aku bertuntun Sabda, serta kepada-Nya pula aku Berbakti dan Manembah Allah”

 

Buku Pedoman Paguyuban Esa Tunggal Sejati

Buku yang dijadikan kitab pegangan oleh warga Paguyuban Esa Tunggal Sejati adalah Kitab Piwarahan Agung Sejati (Piati). Buku ini ditulis oleh Sri Mulyono Hartono, sebagai orang yang mendapatkan wahyu atau sabda pertama kali yang Sejati (Tuhan YME). Kitab Piati ini diturunkan pada tanggal 6 Agustus 1968 dalam rangka untuk memberikan tuntunan/pengertian tentang Tuhan.

Kitab Piati tersebut diterima langsung oleh Sri Mulyono Hartono bukan dari manusia ataupun setan, melainkan langsung dari Sejatinya Hidup, yaitu Tuhan YME. Jadi, Piati itu bukanlah karangan dari Sri Mulyono. Semua yang tertulis di dalam kitab tersebut merupakan sabda yang diberikan oleh Yang Sejati tersebut. Di dalam menerima dan menulis sabda Piati ini, Sri Mulyono tidak mendapatkan bantuan apapun kecuali dengan tinta pena, kertas (buku kosong), dan lampu (Hartono, 1983: ii). Sambil menulis itulah beliau memahami isi Piati.

Kitab Piati ini sekarang sudah tidak lagi diedarkan. Dahulu para warga penghayat Paguyuban Satu Jati sempat melihat dan membaca kitab tersebut, namun karena ditakutkan muncul kebingungan dalam membaaca kalimat-kalimat yang ada di dalamnya maka kitab ini pun ditarik kembali dari para anggota.  penghayat sendiri pun tidak ada yang berani mengartikan kitab Piati karena bahasanya yang cukup unik. Kitab Piati ini menurut Sri Mulyono: “Piati datang sendiri, ber-Tahta sendiri dari kerajaannya sendiri, seperti yang tersebut dalam Piagam Surat Piati yang selalu dibaca pada setiap Ulang Tahunnya” Sabda ini datang sendiri, dari yang paling SENDIRI (paling TUNGGAL) melalui seorang manusia (Sri Mulyono Hartono) yang sedang sendiri. 

Sabda yang terdapat dalam Piati tertata dalam bab yang disebut Pakarti (Pengawal Kata Prakarsa Jati), misalnya Pakarti I, Pakarti II, Pakarti III, dan seterusnya. Kemudian, di dalam Pakarti-pakarti tersebut berisi Surat Pamudaran, yang terdiri atas Surat Pamudaran I, II, III, dan seterusnya. Di dalam Piati ini juga terdapat bagian yang merupakan penegasaan, bimbingan, dan tuntunan, seperti Sabda Awal, Sabda Pambimbing, Sabda Panuntun Pambimbing, Sabda Panuntun Sorga, Sabda Pamungkas, dan lain-lain (Hartono, 1983: 1). Sabda Awal berarti sabda ini terletak pada awal buku.

Di dalam Kitab Pagelaran Hidup yang dibukukan pada tahun 1983 disebutkan bahwa Kitab Piati masih dalam bentuk aslinya, yaitu tulisan tangan. Kitab tersebut belum bisa diperbanyak karena masih banyak kalimat atau kata yang masih wungkul (tumpul). Dikhawatirkan kitab ini akan disalahartikan dan kurang dimengerti oleh mereka yang membacanya. Pengedaran dari kitab ini pun menunggu petunjuk dari yang memiliki kitab, yaitu Sang Sejati. Jadi, sampai saat kitab Pagelaran Hidup ditulis belum ada seorang pun yang pernah membacanya, kecuali kutipan-kutipan yang dirasa perlu saja (Hartono, 1983: 1 – 2).

Kitab Piati tidak dibahas dalam penelitian ini karena Kitab Piati tidak diedarkan dan tidak boleh dibaca sembarang karena ditakutkan dapat menimbulkan salah tafsir. Di dalam Buku Pagelaran Hidup, terdiri atas 10 Bab meskipun tidak disebutkan dengan istilah Bab 1, Bab 2, dan seterusnya. Sistematika dari buku tersebut meliputi:

1. Kata Pengantar

2. Daftar Isi,

3. (Bab 1), Daya Hidup

4. (Bab 2) Roh, Nyawa, atau Suksma

5. (Bab 3), Ilmu Sunyata Sejati

6. (Bab 4), Bersejati

7. (Bab 5), Mencari, Bertemu dan Manunggal dengan Sejatinya

8. (Bab 6), Perluasan Pengertian

9. (Bab 7), Pikir Angan-angan, Rasa Perasaan Manusia

10. (Bab 8), Kembali ke Orisinilnya

(Bab 9), Perjalanan Kejiwaan

(Bab 10) Bertuntun Sabda

 

Konsep Tentang Tuhan


Tuhan, menurut Paguyuban Satu Jati dalam Buku Pagelaran Hidup, disebutkan dengan berbagai kata. Tuhan disebut sebagai “Daya Hidup”. Daya Hidup merupakan “Daya yang menghidupi semua yang harus hidup di alam semesta ini, seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lainnya”. Daya Hidup (DH) ini merupakan sebuah kesatuan utuh yang meliputi semuanya dan dimana-mana. DH ini sifatnya kekal atau langgeng karena jika DH tidak kekal maka dunia akan terhenti dan mati (Hartono, 1983: 1). Pada diri manusia, DH ini bernama “Roh, Nyawa, atau Suksma”. DH ini merupakan Sumber Hidup yang menghidupi sampai hal yang sekecil-kecilnya. Bahkan, pergerakan benda dan perputaran dunia serta planetnya ini merupakan kuasa dari DH. Di dalam Kitab Piati, DH dapat dibaca dalam Surat Pamudaran IV, Pakarti V, yang bunyinya sebagai berikut:

SURAT PAMUDARAN IV

Hidup itu langgeng dan tidak pernah mati (jangan paturat1), sebab kalau hidup tidak langgeng, bukankah sekarang sudah tidak ada kehidupan lagi. Dan selamanya hidup itu tetap hidup. Karena hidup itu menghidupi. Jadi yang mati bukan hidupnya, tetapi barang yang dihidupi itulah yang mati, dan selamanya sejak dari pertamanya jaman, kalau barang itu selalu mati dan tidak pernah menjadi hidup, kalau tiada dihidupi. Karena hidup adalah aku sendiri dan aku tidak pernah mati dan aku bukan barang, jadi aku tidak dapat mati…..Sekarang mengapa demikian, ya karena tergantung si hidup yang kuasa menghidupi itu, dan karena si hidup itu hidup sendiri; oleh karena itu ia maha kuasa, ya maha hidup. Inilah sunyata sejatinya langgeng. (Hartono, 1983: 2).

Di dalam kutipan tersebut terdapat kata “aku” yang merujuk pada Tuhan YME. Hidup atau Daya Hidup itu sifatnya menghidupi, Maha Kuasa, dan Maha Hidup. Maha Hidup ini artinya Dia punya kuasa menghidupi dan Dia itu hidup sendiri. Dia bersifat kekal atau langgeng. Dia tidak bisa mati karena Dia bukanlah barang. Selain disebut sebagai Daya Hidup, Tuhan dalam Paguyuban Satu Jati juga disebut sebagai yang Sejati. Beberapa kali dalam Kitab Pagelaran Hidup disebutkan kata “Sejati” yang artinya merujuk pada Tuhan. Penyebutan tersebut diantaranya dalam halaman 1, 2, 4, 5, dan seterusnya. Manusia berada pada tingkatan nyata sedangkan Tuhan berada “di atasnya nyata” dan yang berada dalam “Sejatinya Nyata” ini adalah Tuhan itu sendiri, Sang Sejati.

Ilmu pengetahuan manusia tidak dapat menjangkau ilmu pengetahuan Tuhan, dan ilmu ini diberi nama Ilmu Sunyata Sejati (Hartono, 1983: 4). Di dalam Surat Pamudaran IV disebutkan bahwa “…kalau Sejati itu tidak kelihatan (nyata) tetapi Hidup, bahkan Si Hidup itu sendiri. Apakah pernah ada manusia di dunia ini yang melihat hidup? Tetapi semua orang mengatakan bahwa Hidup itu ada” (Hartono,1983: 4). Ini dapat diartikan bahwa sebenarnya Tuhan itu gaib, Tuhan itu merupakan sesuatu yang bukan barang atau benda. Sang Sejati ini tidak dapat dideteksi, tidak dapat diukur, tidak dapat diraba, tetapi dapat dimengerti kalau Tuhan itu Ada. Untuk mempelajari tentang Tuhan inilah menggunakan Ilmu Sunyata Sejati, yang merupakan Sejatinya Ilmu Sunyata. Ilmu ini tidak dimudah didapatkan. 

Konsep akan Tuhan dalam Kitab Piati yang diyakini oleh warga penghayat Paguyuban Esa Tunggal Sejati adalah sesuatu yang harus dimengerti bukan hanya sekedar percaya. Mengerti atau pengertian itu beda dengan percaya atau kepercayaan. Mengerti itu artinya mengetahui dan membuktikan keberadaan atau adanya sehingga ada nilai kebenaran yang nyata di dalamnya. Percaya adalah suatu keyakinan bahwa sesuatu itu benar ada namun belum terbukti dan diketahui kebenarannya (Atmodjo, tt-b: 1). 

Konsep mengenai “Pengertian akan Tuhan” bukan “Kepercayaan akan Tuhan” terdapat dalam Sabda Awal 1 Kitab Piati yang berbunyi:

Sabda Awal 1

Hai Manusia

Engkau jangan hanya percaya kepada KU

Tetapi engkau harus mengerti kalau AKU itu ADA

Dan AKU selalu di dekatmu

Bahkan AKU ada di dalammu

Maka carilah AKU

Nanti KU tuntun kau

 

Jadi, berdasarkan Sabda Awal 1 tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia harus mengerti akan Tuhannya, bukan hanya percaya saja. Sabda Awal 1 tersebut kemudian diikuti dengan sebuah kalimat yang mendasari isi Kitab Piati, yaitu:

Inilah sabdaku yang kuturunkan hari ini, di dalam hujan gerimis dibulan Agustus Tahun 1968, pada jam 8 kurang seper empat petang, tanggal enam menjelang tuju. Yaitulah sabdaku yang kunamakan sabda pengawal untuk memberi pakarti dalam buku ini – dan tidak hanya itu, bahkan semua yang tertulis adalah kata-kataku sendiri, dari jengkal kata yang menjejak buku ini, untuk beredar keseluruh dunia, untuk membawa umat manusia berpakarti kepada Tuhan yang sejati dengan tidak atas dasar kepercayaan atau beriman yang tebal, tetapi harus mengerti. Karena mengerti itu lebih dari percaya, Sebab mengerti itu sudah tahu dan kalau percaya itu belum tentu tahu. Maka kalau kepercayaan itu lama-kelamaan akan pudar dan akhirnya ganti kepercayaan lain. Maka titik penegak dari kitab agung ini adalah pengertian yang mendalam, sehingga tahu benar – tidak hanya percaya dalam kepercayaan, tetapi harus percaya dalam pengetahuan pakarti.

Berdasarkan isi Sabda Awal di atas, yang perlu dipahami oleh warga penghayat adalah pentingnya PENGERTIAN dibanding KEPERCAYAAN. Paguyuban Esa Tunggal Sejati bukanlah aliran kepercayaan tetapi aliran kejiwaan (Hartono, 1983: 5). Jiwa itu memiliki kesamaan arti dengan “Hidup”, dan Sang Hidup itu sejati, sehingga KEJIWAAN sama artinya dengan KESEJATIAN. Seorang warga penghayat akan mengerti dahulu baru kemudian percaya, bukan percaya dulu baru mengerti. Prinsip ini harus dipegang oleh para penghayat Paguyuban Satu Jati. Kepercayaan ini dapat hilang karena belum mengandung kebenaran ilmiah. Tuhan itu adalah Maha Ilmiah dan Maha Gaib, tapi karena Gaib inilah ilmu pengetahuan tidak dapat menjangkau atau membuktikannya (Atmodjo, tt-b: 2).

Di dalam Kitab Piati, Tuhan menurunkan kebenaran akan dirinya melalui pengertian yang disabdakan dalam kata dan kalimat yang jelas dan sederhana. Selain itu, di dalamnya pun ada tuntunan bagaimana seseorang dalam kontak langsung dengan Tuhan dalam proses manembah (manunggal dengan Allah). Penyebutan istilah Tuhan sebagai Sumber Hidup atau Daya Hidup dalam Kitab Piati sama dengan yang disebutkan oleh Basuki (2015: 25) di dalam bukunya. Tuhan merupakan Pemberi Hidup yang menghidupi manusia dan makhluk lainnya yang ada di alam semesta. Hidup manusia ini kekal dan tidak berakhir hanya pada proses kelahiran sampai kematian saja. Tujuan dari hidup manusia adalah untuk kembali pada Sumber Hidup, yaitu Tuhan.

Paguyuban Satu Jati juga menyebutkan bahwa tuntunan tertinggi bagi manusia adalah bisa bersatu atau bersejati dengan Tuhannya. Manusia harus kembali pada Tuhan supaya bisa mengerti bahwa Tuhan itu ada. Bukan hanya sekedar percaya, tapi harus mengerti, yaitu mengakui dan membuktikan bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Keyakinan ini sesuai dengan salah satu dari ciri pokok penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME yang disampaikan oleh Basuki, yaitu adanya keyakinan terhadap Tuhan (Basuki, 2015: 33).

Paguyuban Satu Jati mengakui adanya Tuhan YME dan pengakuan inilah yang menimbulkan keyakinan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta, yang artinya Tuhan adalah Sumber Hidup atau Daya Hidup. Tuhan dalam Paguyuban Satu Jati disebut juga dengan kata Sejati. Sejati ini maknanya adalah sesuatu yang sifatnya ada di atas nyata. Yang nyata itu adalah manusia, sehingga yang ada di atasnya nyata itu adalah Tuhan yang sejati. Ilmu pengetahuan manusia tidak akan dapat menjangkau dan menjelaskan tentang Tuhan, yang Sejati. Oleh karena itu, dalam Paguyuban Esa Tunggal Sejati ada Ilmu Sunyata Sejati yang digunakan untuk memahami tentang Tuhan YME. Adanya pengakuan kesejatian Tuhan, menganggap bahwa Tuhan itu benar, dan meyakini keberadaannya merupakan pengertian kepercayaan terhadap Tuhan YME secara etimologi (Basuki, 2015: 28). Dengan demikian, konsep Tuhan dalam Paguyuban Esa Tunggal Sejati pun sama dengan dengan konsep kepercayaan terhadap Tuhan YME secara umum.

 

Konsep tentang Manusia


Jika Tuhan disebut sebagai DAYA HIDUP, maka daya hidup manusia adalah “Roh,
Nyawa, atau Suksma”. Roh ini adalah bagian dari Sang Hidup, yaitu Sang Pencipta. Manusia dapat hidup karena dihidupi oleh Sang Maha Hidup. Daya Hidup ini menghidupi manusia dan menimbulkan dua unsur, yaitu daya pikir dan rasa. Daya pikir ini berada di lingkungan otak sedangkan rasa berada di lingkungan hati (Hartono, 1983: 9). Daya pikir ini meliputi angan-angan, cipta, dll, sedangkan rasa ini meliputi perasaan dan emosi.

Pertemuan antara daya pikir (P) dan daya rasa (R) akan menimbulkan sebuah kebijaksanaan, perilaku nafsu, yang kesemuanya merupakan kehendak atau karsa (K) yang hidup. Manusia dalam menghayati kehendaknya kadang tidak menyadari adanya peran Tuhan atau Daya Hidup. Padahal, Tuhan inilah yang menguasai seluruh tubuh manusia dan menjadi daya penggerak. Tanpa disadari, manusia akan sulit mengerti bahwa di dalam dirinya terdapat pribadi yang lebih tinggi darinya (Hartono, 1983: 9).

Perpaduan pikir, rasa, dan karsa akan menghasilkan perilaku, penyampaian keinginan, nafsu, tingkah rasional maupun emosional (baik dan buruk). Karsa-lah yang mengolah pertemuan antara rasa dan pikir ini dan hal ini terjadi dalam keadaan sadar manusia. Manusia juga dapat mengalami Titik Hening, dimana manusia berada dalam alam bawah sadarnya. Di dalam keadaan ini manusia akan terlepas dari pengaruh pikir dan perasaannya sendiri dan keadaan bawah sadar ini sulit untuk dibuktikan melalui akal. Titik hening (bawah sadar) dapat dikatakan juga sebagai “Titik Kesucian” karena pada titik ini tidak ada lagi nafsu, pikir, maupun perasaan.

Di dalam titik kesucian inilah para Nabi dapat menerima wahyu. Wahyu diterima dalam keadaan bawah sadar dan suci, namun bawah sadar ini bukan berarti tidur. Orang yang berada di bawah sadar masih mampu menceritakan pengalaman-pengalaman yang dialaminya saat berada di alam tersebut (Hartono, 1983: 10). Manusia dalam hidupnya harus mengamalkan dan menjaga nilai-nilai moral yang terkandung dalam hubungan antara manusia dan juga dengan sesama makhluk yang diciptakan Tuhan YME. Jadi, manusia itu merupakan makhluk indivdu dan juga makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk individu dan sosial tidak dapat dipisahkan dengan makhluk lainnya. Oleh karena itu warga Paguyuban Satu Jati harus berpegang pada prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. saling menghormati sesama umat,

2. hidup gotong royong,

3. menjaga ketertiban paguyuban dan umum,

4. menghormati semua agama,

5. saling kasih-mengkasihi sesama warga/umat, dan tidak berbuat yang merugikan orang lain.

Konsep manusia pada ajaran Paguyuban Esa Tunggal Sejati sejalan dengan konsep manusia yang dituliskan oleh Basuki. Di dalam Kitab Piati disebutkan bahwa manusia adalah bagian dari Sang Pencipta. Manusia dihidupi oleh Sang Maha Hidup dan dibekali dua unsur, yaitu daya pikir dan daya rasa. Perpaduan dua daya ini diolah oleh kehendak atau karsa menjadi perilaku. Perilaku inilah yang termanifestasi dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang merupakan bagian dari Sang Pencipta, berarti manusia merupakan makhluk individu yang berhubungan dengan Tuhan YME sebagai penciptanya. Manusia dalam hubungannya dengan Tuhan ini oleh Basuki disebut berada dalam dimensi vertikal (Basuki, 2015: 19).

Manusia juga berperan sebagai makhluk sosial dan hal ini sesuai dengan konsep yang ditulis oleh Basuki, yaitu manusia berada di dalam dimensi horisontal. Manusia harus selalu menjaga keseimbangan antara dua dimensi tersebut. Manusia sebagai makhluk paling mulia, dibekali oleh Tuhan berupa daya pikir, rasa, dan karsa. Oleh karena itu, manusia harus berusaha untuk menjaga hubungan dengan sesamammaupun dengan makhluk lain yang ada di alam semesta ini. Dalam bergaul, manusia harus memperhatikan prinsip-prinsip salah satunya adalah dengan saling menghormati dan tidak menyakiti sesama. Dengan demikian, persaudaraan antarsesama manusia atas dasar cinta kasih pun dapat tercapai, seperti sikap yang seharusnya tercermin dari seorang penghayat kepercayaan (Basuki, 2015: 57)

Manembah

Manembah merupakan perbuatan nyata dari seseorang dalam dirinya untuk bersembah kepada Tuhan (Atmodjo, tt-d: 1). Manembah ini dilakukan dengan cara membaca syahadat Paguyuban Satu Jati serta melakukan penyerahan pasca bersyahadat. Manembah juga diartikan sebagai perwujudan dari patrap sujud seseorang dalam berpakarti kepada Tuhan. Syahadat Paguyuban Satu Jati berbunyi

“Allah itu ada, yang hidup

atas Maha Kuasa-Nya, dialah satu Yang Esa serta Sempurna, maka hanya kepada-Nya lah aku

bertuntun Sabda, serta kepada-Nya pula aku Berbakti dan Manembah Allah”.


Pasca membaca syahadat para warga penghayat melepaskan semua kehendak dan nafsu kemanusiaan untuk menuju pada ke-Agung-an Tuhan, untuk bertunggal kepada Tuhan dan kemudian memasrahkan diri. Pada peristiwa kepasrahan penyerahan diri inilah manusia merasa hidup tanpa pamrih karena manunggal ke dalam Esa Sejati atau Sang Satu Jati. Suasana inilah yang disebut dengan manembah. Praktik ini membutuhkan latihan-latihan kejiwaan supaya bisa berhasil ber-manunggal dengan yang Sejati. Di dalam Kitab Piati sabda yang menunjukkan perintah untuk manembah ada pada Sabda Suksma yang berbunyi sebagai berikut (Hartono, 1983: 8):

Sabda Suksma :

Hai manusia

Datanglah padaku segera

Telah kutunjukkan jalan Satu

Yang sempurna dan bermujizadYaitu Ngasuksma

Bersejati merupakan bahasa lain dari proses manembah. Bersejati merupakan bagian terpenting dalam Piati karena ada sujud manembah langsung di dalamnya, tanpa nyanyian maupun doa. Dalam manembah langsung ini seseorang dapat menerima tuntuntan berupa sabda-sabda dari yang Sejati. Bila seseorang telah mendapatkan sabda-sabda ini, maka ini merupakan tuntunan yang tertinggi dan dengan demikian dia sudah dapat mengerti adanya Tuhan, dan membuktikan bahwa Tuhan itu ada (Hartono, 1983: 5 – 7).

Inti dari Piati adalah supaya manusia dapat bertemu, kemudian manunggal dengan Tuhannya, serta memperoleh tuntunan-Nya. Jika manusia selalu bersama Tuhan, maka apapun yang akan dilakukan hendaknya selalu dalam ridlo-Nya, dan segala yang diterima manusia adalah anugerah-Nya (Hartono, 1983: 7). 

Ngasuksma dan manembah sebenarnya memiliki makna yang sama hanya saja ngasuksma terkesan lebih bermanunggal dengan Tuhan daripada manembah. Di dalam kata manembah seolah-olah terkesan masih ada jarak antara yang disembah dengan Sang Panembah. Kalau dalam ngasuksma terkesan bahwa anusia sudah menjadi satu dengan suksma, telah manunggal dengan Tuhan (Hartono, 1983: 8).

Konsep ketiga yang terdapat dalam Kitab Pagelaran Hidup adalah manembah atau bersejati atau ngasuksma. Konsep ini berarti bersatunya manusia dengan Sang Pencipta, atau manunnggaling kawulo gusti. Sikap manembah ini menurut Basuki (2015: 55) selalu ada di dalam setiap organisasi penghayat kepercayaan. Namun, tiap organisasi bisa berbeda-beda bentuk atau cara melakukannya. Manembah secara umum merupakan penyerahan diri kepada Tuhan YME dengan kesadaran total setelah menghayati adanya Daya Hidup. Manembah menurut Paguyuban Satu Jati juga merupakan penyerahan diri untuk bemanunggal kepada Tuhan YME. Pada Paguyuban Satu Jati, manembah dilakukan pasca warga penghayat bersyahadat.

Manembah ini dilakukan dengan menggunakan dasar adanya Sabda Suksma di dalam Kitab Piati. Maka dari itu, manembah juga disebut dengan istilah ngasuksma. Istilah ini dianggap lebih mengena karena saat proses penyerahan diri manusia atau suksma kepada Tuhan sudah tidak ada lagi jarak. Kalau manembah masih menunjukkan adanya jarak antara yang menyembah dan Sang Panembah. Di dalam kemanunggalannya manusia dengan Tuhan, manusia akan mengenal proses menuju kedewasaan yang utuh, berbudi pekerti luhur, dan mampu menghadapi tantangan dan cobaan (Basuki, 2015: 108).

Inti dari Piati adalah manusia dapat bertemu kemudian manunggal dengan Tuhannya. Jika manusia sudah bermanunggal dengan Tuhan, dia akan mendapatkan sabda-sabda langsung dari Tuhan, dan inilah tuntunan tertinggi yang harus dicapai manusia dalam ajaran Piati.



Sebagai penulis sangat banyak terima kasih su
dah di berikan pengantar memuncakkan jiwa kesadaran meskipun waktu itu masih memiliki jiwa muda yang belum tahu betul apa makna di balik itu semua, butuh pemahaman yang dalam untuk di mengerti. Sebagai tongkat estafet SangKami merupakan wadah yang masih terus berjalan sampai saat ini.

Rahayu....

Terberkatilah kita semua

 

Recent Comments

Diberdayakan oleh Blogger.