Sabtu, 28 November 2020

PUSAKA INDONESIA GEMAHRIPAH


Menghidupkan Kembali Pancasila

Pancasila adalah sesuatu yang sangat mendasar dan penting (dalam kehidupan pribadi maupun kehidupah berbangsa bernegara).  Kita gaungkan kembali karena inilah yang menjadi pengikat bangsa yang punya banyak suku, ras, agama. Inilah landasan bagi negara ini untuk membangun kejayaan, kemakmuran, dan mencapai cita-cita kemerdekaan.  Sudah saatnya Pancasila tidak hanya dihafalkan dan dimengerti secara kognitif. Pancasila harus ada di dalam sanubari kita. Menyala betul sebagai api yang menggerakkan kita untuk berkata-kata, bertindak, dan berkarya dalam semangat berketuhanan dan berkemanusiaan. Kita perlu menumbuhkan cara bagaimana Pancasila meresap dalam diri kita dan menyala dalam sanubari kita. 
Cara yang sudah ada dan dikenalkan oleh Founding Fathers kita dinamakan sebagai hening cipta. Jika kita melihat Pancasila, kita akan mengerti porosnya ada di semangat Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita menyadari penuh bahwa kita semua berasal dari Tuhan yang sama. Kita semua menghirup udara yang sama. Kita semua berdiri di tanah yang sama. Kita sama-sama dihidupi oleh daya hidup yang mengalir dari keberadaan yang sama.

Menyadari hal seperti ini dengan sungguh-sungguh hanya bisa terjadi jika kita sering menyelami keheningan. Kita mengerti keberadaan Tuhan yang sesungguhnya jika kita tekun melakukan hening cipta. Hening cipta membuat kita bisa mengerti keberadaan Tuhan yang nyata yang bersemayam di relung jiwa. Hening cipta mengantarkan kita mengerti bahwa di dalam diri kita ada sumber kebahagiaan sejati dan sumber kebijaksanaan tertinggi yang membuat kita tahu bagaimana menjalankan laku hidup sebagai manusia yang berketuhanan. Hening cipta adalah langkah awal kita di dalam menjalani hidup dalam kesadaran ketuhanan.
Setiap diri sesungguhnya punya harapan yang sama. Setiap diri pasti punya hasrat menemukan kebahagiaan sejati dan mencapai kehidupan yang terbaik. Semua bisa mencapai semua itu asal menemukan jalan yang tepat. Jalan untuk menemukan tujuan luhur itu disebut jalan spiritual. Dalam konteks bangsa, kita sebagai bangsa Indonesia juga memiliki harapan luhur. Dibutuhkan sebuah jalan agar harapan luhur bisa tercapai. Jalan itu sebetulnya sudah ada dan sudah pernah dihayati juga dipraktikkan oleh bangsa kita di berbagai suku, ras, dan agama. Jalan itu diintisarikan dalam Pancasila.

Di dalam Pancasila yang jadi poros semuanya adalah sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai bangsa Indonesia, kita tidak peduli suku, ras, agama, diarahkan untuk mengahayati keberadaan Tuhan yang nyata. Saat kita betul-betul bisa merasakan keberadaan Tuhan, maka muncul kualitas-kualitas ketuhanan yang paling mendasar, yakni kasih murni. Jika seseorang punya kasih murni, mereka akan memiliki rasa kemanusiaan yang universal. Ini dirumuskan dalam Pancasila sila kedua, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan jiwa kemanusiaan yang universal kita bisa berlaku adil pada siapa pun dan kita akan mempunyai adab atau keluhuran kepada siapa pun tanpa pandang bulu. Dengan kasih murni, seseorang akan mampu melampaui egonya. Orang yang bisa melampaui egonya akan terhindar dari semangat berkompetisi atau bersaing yang bisa menjatuhkan dan menghancurkan kita bersama. Dengan kasih murni kita bisa menerima semua sebagai saudara. Jika seseorang benar-benar memiliki Ketuhanan yang Maha Esa dan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, maka bisa menciptakan persatuan Indonesia.
 

Mengapa pada saat ini ada pergolakan dan konflik atas nama perbedaan kelas sosial, suku, ras, dan agama? Itu semata-mata karena kita semua belum menghayati Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita masih mengedepankan pikiran egoistik kita, ingin menang sendiri demi mengejar sesuatu yang membawa kebahagiaan fatamorgana.
Jika kita kembali ke jalan Pancasila, kita akan mengerti bahwa sumber kebahagiaan ada di dalam diri. Kita tidak akan mengejar sesuatu di luar sana. Kita tidak akan saling berebut dan berkompetisi karena kita mengerti bahwa setiap orang punya jatah masing-masing. Mereka yang sudah mengahayati Pancasila akan merasakan kebahagiaan sejati dan hidupnya hanya untuk berbagi kebahagiaan.  
Perkumpulan kita, Pusaka Indonesia GemahRipah, yang kita cita-citakan bersama dan punya kontribusi lebih untuk negara ini, memang memilih dengan sadar mengenai sebuah program atau kegiatan yang bisa mengenal kembali kesejatian Pancasila. Hanya dengan cara ini, kita bisa kembali pada jati diri kita sebagai bangsa yang luhur. Kita ingat ungkapan Bung Karno tentang bangsa ini yang akan menjadi bangsa yang besar jika bisa berbudaya sesuai dengan jati dirinya, berdikari secara ekonomi, dan berdaulat secara politik. Berbudaya sesuai jati diri tidak mungkin terjadi tanpa kembali pada nilai-nilai luhur yang ada dalam sejarah peradaban bangsa. Kembali kepada jati diri tidak akan terjadi tanpa mengenali Tuhan yang nyata sebagai Diri Sejati.
Inilah mengapa kita menjadikan "Hening Cipta dan Ngaji Pancasila" sebagai kegiatan utama agar kita sebagai bangsa bisa bertransformasi, menemukan jalan kebahagiaan, dan bertumbuh menjadi Jiwa Ilahi. Jiwa-jiwa Ilahi inilah yang disebut Manusia Pancasila, manusia yang bisa berkarya membangun bangsa dengan ketulusan yang paripurna.

Bagaimana nilai-nilai Pancasila kita yakini bisa membawa kita ke era kejayaan? Selama ini kita merasa di bawah atau inferior dari lainnya.
Jika kita hanya melihat negara kita saat ini tentu saja rasa minder adalah hal yang wajar. Dibandingkan denga negara-negara maju, kita sebenarnya tertinggal saat ini. Walaupun NKRI baru terbentuk pada 17 Agustus 1945. Namun, sebagai bangsa kita jauh lebih tua. Sebelum jadi bangsa Indonesia, kita sudah jadi bangsa Nusantara. Jika kita selami betul bangsa Nusantara, bangsa kita pernah mecapai titik-titik kejayaannya, ada di fase kemajuan.  Sebagai contoh, ketika bangsa kita bisa membangun candi, yang dibutuhkan adalah lima syarat utama untuk mengada, yaitu: bangsa kita berkesadaran spiritual, punya kemajuan teknologi, punya cita rasa seni yang tinggi, punya kemajuan ekonomi, dan punya stabilitas politik. Masalahnya saat ini kita dibuat lupa bahwa kita pernah menjadi bangsa yang agung. Ada sejarah yang sengaja dituliskan sehingga kita merasa malu pada leluhur kita sendiri. Jika kita tahu bahwa kita pernah menjadi bangsa yang agung, pasti kita akan mengerti dan tidak punya lagi rasa minder.
Bagaimana menerapkan nilai-nilai Pancasila dan menyalakan semangat Pancasila dengan kondisi sekarang?
Pertama kita sadar kenyataannya bahwa pada saat ini bangsa kita jauh dari nilai-nilai spiritualitas. Secara kolektif, tingkat kesadaran kita terbilang rendah. Kita bangsa terbelakang secara spiritual, meskipun banyak yang mengaku kita adalah bangsa relijius.  Indikasinya banyak orang yang tidak bahagia, banyak konflik, dan kisruh.
Jika kenyataannya seperti ini, lalu kita mau apa? Apakah kita mau diam atau larut atau hanya memikirkan diri sendiri? Atau dengan kesadaran murni kita berbuat sesuatu demi menciptakan keadaan yang lebih baik?

Jiwa-jiwa pejuang saat melihat masalah, dia tidak patah, tidak menjadi menyerah, dan tidak memikirkan dirinya sendiri. Tetapi, bangkit semangatnya untuk mengubah kenyataan itu menjadi apa yang seperti diidealkan. Kita mendapatkan dorongan Semesta untuk menghidupkan kembali api Pancasila. Saya pribadi benar-benar digerakkan untuk mengahayati nilai-nilai Pancasila secara otentik dalam keseharian, dan selanjutnya saya bagikan kepada Anda semua. Yang perlu ditekankan label jadi tidak penting, yang penting lewat jalan spiritual ini, kita hidup bahagia, rukun, penuh kebersamaan dan penuh karya. Dalam cara hidup yang demikianlah Pancasila hidup. Riak-riak kecil ini akan jadi gelombang yang besar.
Jika ini semua mewarnai pemerintahan, pemerintahan akan punya cara untuk membawa anak-anak mengenal nilai-nilai Pancasila. Jika ini jadi kebijakan pemerintah, kita bisa membuat anak-anak SD, SMP, SMA melakukan hening cipta sebelum belajar. Mereka diajak merasakan napas, mengucapkan terima kasih pada Tuhan, mendoakan orang tua, guru, dan teman-temannya, juga bumi ini.  Mereka pasti berubah.

Anak-anak diajak untuk mengasah diri dan melembutkan rasa dengan menari atau bermain gamelan dan angklung, pasti berubah. Jika perubahan ini semakin sistemis, maka kita akan jadi bangsa yang besar. Tidak ada yang mustahil. Yang mustahil itu karena kita hanya mengukur kekuatan kita sekarang bagaimana dan tantangannya apa. Tetapi, para pejuang tidak pernah berhenti sampai di sana. Para pejuang hanya mengikuti panggilan jiwanya untuk mengerjakan yang terbaik. Lalu, sisanya biarkan Tuhan yang menciptakan keajaiban dengan menolong kita. Yang penting kita bekerja dan berkarya. Pasti ada gunanya. Tidak ada yang sia-sia dari perjuangan.

*Hening Cipta dan Ngaji Pancasila
Setyo Hajar Dewantoro

Pusaka Indonesia GemahRipah
Batam, 26 November 2020


Kamis, 29 Oktober 2020

SPIRITUALITAS, KOLABORASI DAN PERUBAHAN (3)


Saya katakan apa adanya, tidak mudah bagi saya untuk menemukan sesama pembimbing spiritual yang benar-benar klik karena selaras vibrasinya. Meski labelnya sama jika vibrasinya berbeda pasti tidak gathuk alias tidak nyambung. Maka kita tidak bisa berkolaborasi dengan semua orang meski inginnya begitu.

Sebuah anugerah bagi saya, bisa berjumpa dengan beliau ini. Beliau tinggal di Lampung dan mengajarkan Ilmu Sejati. Saat saya memandu workshop di Pringsewu Lampung, beliau ikut serta - itu menjadi momen bagi beliau untuk tahu secara faktual apa yang saya ajarkan dan bagaimana cara saya mengajar. Dari momen itu, dinyatakan bahwa apa yang saya ajarkan tidak meleset sedikitpun dari 18 pokok ajaran Ilmu Sejati yang beliau bimbingkan kepada murid-muridnya. Bedanya cuma pada bahasa karena saya pakai bahasa kontemporer - dan beda kedua saya ngajarnya acak karena tidak dikonsep, hanya ngglundung mengalir.

Saya senang bertemu beliau ini karena ibarat pendekar silat, saya bisa ketemu lawan tanding yang imbang yang memacu saya untuk banyak belajar dan berbenah lagi. Ada banyak hal yang secara teori sudah saya mengerti tapi saya belum bisa praktikkan, beliau sudah pernah mengalaminya: antara lain teleportasi dan penggandaan tubuh fisik. Kalau jalan -jalan melintasi ruang waktu, atau menggandakan diri di level tubuh astral, itu hal biasa. Tapi kalo bisa lakukan itu hingga di level tubuh fisik, itu luar biasa dan saya belum bisa.

Terkait dengan laku hingga level masing-masing saat ini, ternyata laku saya masih jauh lebih manusiawi. Beliau melakukan atau mengalami hal yang saya rasanya gak bakal sanggup: bertapa di puncak Gunung Dempo selama 80 hari, berjumpa dengan para datuk harimau di sana, dan tetap hidup dengan jiwa yang murni. Dengan modal inilah, ada pendekar yang mewarisi gen inyik (manusia harimau) yang takluk dan jadi muridnya. Hal lain, dulu saking bandelnya beliau ini ditangkap oleh kakeknya dan dimasukkan ke dalam peti dan baru dilepas setelah 40 hari. Sementara saya basis lakunya lebih banyak di meditasi, agak ekstrim ya hanya di fase 2008-2013 sering blasukan ke gunung, hutan.

Bisa dibilang beliau ini mewakili model laku orang-orang jaman dulu. Sementara saya prototype jaman sekarang - dulu titik tekannya pada awalnya adalah di ketahanan tubuh dan kesaktian, sementara sekarang lebih pada kesadaran. Tapi perbedaan itu bukan halangan untuk berkolaborasi karena selama vibrasi selaras dan tujuan sama, berbeda itu indah.

Selanjutnya kami memang bakal banyak berkolaborasi, terutama dalam merintis dan membesarkan Partai Gemah Ripah. Beliau mau bergabung karena sudah menakar energi saya dan berdasar perhitungan kuna semuanya sudah pas.

Kita lihat bersama apa yang akan terjadi...

Rabu, 28 Oktober 2020

Hari Sumpah Kedaulatan Bangsa


Wahai pemuda pemudi 2020 sudah saatnya tiba menyatukan persamaan pikiran dan rasa mewujudkan nilai-nilai penerus para leluhur bangsa untuk menyongsong kehidupan Gemah Ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja bagi semua masyarakat.

Bangun !!!
ayo bangun tengok dan lihatlah wajah berdemokrasi saat ini ?
nalar dan logika kita di uji pada fase benar dan salah oleh kepentingan kelompok bukan pada bangsa yang seutuhnya.
Gemuruhkan Api pancasila yang seharusnya menjadi tempat naungan Sangkami. Wakilkan suara mu menyelesaikan batasan tanpa tersekat Globalisasi.

BERJUANG DAN MENANG

Kita dilahirkan untuk menjadi patriot bukan pecundang - maka patriot sewajarnya berjuang bukan diam saja. Kita dilahirkan untuk menjadi pembela Ibu Pertiwi, bukan sebagai penghianat. Kita sadari rancangan agung itu, dan kita realisasikan berdasarkan kesadaran yang murni.

Setelah menyelami spiritualitas, kita tidak kemudian menjadi apatis terhadap dinamika yang ada di negeri ini. Sebaliknya, kita menjadi sangat peka saat ada upaya untuk membuat negeri ini kehilangan kedaulatannya dan tergerak untuk berjuang memastikan kedaulatan bangsa ini terjaga. Tuhan yang dalam realitasNya sebagai penuntun agung di dalam diri menitahkan agar kita berjuang sebisa kita untuk menyirnakan segala bentuk penjajahan baru.

Dengan wadah Perkumpulan Pusaka Indonesia Gemah Ripah, kami hening cipta secara serempak di berbagai kota, memberkati negeri ini. Kami mengucapkan Sumpah Kedaulatan Bangsa. Kami juga menyuarakan apa yang menjadi isi hati dengan cara yang damai, agar bisa di dengar oleh semua yang sedang ada di posisi pengambil kebijakan: cabut status darurat kesehatan, kembali hidup normal penuh, no vaksin, no masker, no PSBB, juga dibukanya kembali sekolah-sekolah.

Apa dasar dari tuntutan ini? Kami sudah membuat kajian akademik tentang fenomena pandemi, dampaknya, deviasi di lapangan, dan solusi yang realistis.

Biarlah semakin banyak yang sadar, untuk kembali hidup sebagai bangsa yang berdaulat, sesuai amanat Pancasila.


Rahayu
Terberkati kita semua

28 Oktober 2020
Hari Sumpah Pemuda

#partaigemahripah
#pusakaIndonesiagemahripah
#pemudaberdikari
#lintasbudaya
#nusantarajaya
#spiritual

Minggu, 18 Oktober 2020

GEMAH RIPAH LOH JINAWI TATA TENTREM KERTA RAHARJA


Bangsa indonesia sejak dahulu sudah mempunyai mekanisme tersendiri dalam menentukan karya budaya peninggalan para leluhur Agung yang memberikan filosofi kepada generasi selanjut nya sebagai pelajaran pekerti. Bahwa negeri ini sudah di karunia tempat yang makmur dari segala sumber daya alam yang begitu mempesona maka nya tak heran dari masa ke masa jika kita renungi pada hamparan tertinggi mata memandang sangat mempesona hijau ke emasan dan sebagai perbandingan dari negara lain indonesia masih memiliki tanah yang hidup tumbuh subur terbentang dari sabang sampai merauke. Maka nya tak ayal ungkapan Gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja adalah bukti nyata pernah ada kejayaan yang besar dari masa kerajaan terdahulu memimpin dan membangun prasasti, candi - candi yang megah supaya generasi selanjut nya bisa ambil pelajaran tersebut. Dan di buktikan lagi dengan ungkapan Memayu hayuning bawono bahwa setiap individu manusia yang hidup harus bisa memperindah kelestarian alam dan mampu memberdayakan semaksimal mungkin lebih hidup lagi bukan merusak tatanan sumber kehidupan alam yang sudah di berikan Anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
 

Makna terkait Gemah Ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja adalah gambaran Kekayaan yang akan membawa kemakmuran, ketentraman, kesejahteraan dan kedamaian bagi masyarakat seutuhnya.
Ternyata setelah
di telusuri banyak warga masyarakat yang mempunyai kesadaran untuk terus menumbuhkan ungkapan gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja dalam ruang lingkup kecil seperti keluarga, desa maupun organisasi. Mengolah sistem gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja sebagai rujukan kesamaan dan kesetaraan kemanusiaan dalam kehidupan sangat memungkinkan lantas apa mau mereka-mereka yang mempunyai kepentingan gaya kapitalis. Istilah ungkapan Gemah Ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja akan terus hidup berkembang membangun suatu tradisi yang memang cukup baik jika di lakukan dalam sendi bernegara maupun dalam sendi kehidupan.
Namun, kini orang mempertanyakan
di mana gemah ripah loh jinawi tata tenterem kerta raharja di negeri yang penuh pesona anugrah kekayaan alam melimpah ?
Tokoh nya siapa yang berani tampil pa
da level tetinggi kecuali budayawan dan orang yang memiliki jiwa spiritual.

Melalui Blog Partai Gemah Ripah kami memanggil jiwa jiwa yang su
dah terpatri menyamakan persepsi cara pandang yang sama untuk meramaikan wahana kancah perpolitikan yang justru jarang di sentuh para tokoh politik dalam melakukan kampanye gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja semua bukan hanya pemanis kata-kata harus ada perwujudan nyata dan mampu menyeleksi sumber daya manusia unggul, mampu menyeleksi sumber daya alam yang tidak merusak lingkungan, mengembangkan teknologi pangan, rempah rempah, jamu tradisonal sebagai identitas bangsa. 

Ingin lebih tahu secara detail partai gemah ripah telusuri dan buktikan dengan rasa kesadaran spiritual. Nilailah sendiri setelah anda menjadi bagian Gemah ripah, kesampingkan ego pikiran sementara bacalah visi dan misi sebagai rujukan memperluas ke masyarakat, sejati nya pembahasan spiritual sangat luas tidak melihat sebatas keagamaan saja dan sangat berarti bagi kita di kehidupan masa kini dan kehidupan selanjut nya.

Mari kita kembali ke tema semula Gemah Ripah Loh jiwani tata tentrem kerta raharja...
Su
dah bosan rasa nya bangsa yang besar ini hanya kampanye-kampanye sebatas kata pemanis dan memberikan embel-embel angin surga yang manis namun pahit pada proses kepemimpinan. Kita cukup melihat saja tidak usah marah cukup kenali partai nya dan tokohnya, setelah itu selesaikan urusan kita pada bilik suara pencoblosan, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas di pilih.



Jumat, 09 Oktober 2020

SPIRITUALITAS, KOLABORASI DAN PERUBAHAN BANGSA

 


Spiritualitas adalah tentang menyelami, mengenali, dan merealisasikan kualitas esensi setiap diri. Ini tentang menumbuhkan benih keilahian: melalui spiritualitas setiap orang bertumbuh menjadi Manusia Ilahi/Kristus/Adhi Budha/Avatar. Fondasi dari pencapaian tahapan ini adalah pemurnian jiwa, yang dilanjutkan dengan ketertuntunan dan loyalitas penuh kepada Gusti/Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka yang berhasil dalam proses ini, terselaraskan jiwa raganya, menjadi non egoistik, sadar bahwa setiap orang punya rancangan agung masing-masing dan karena itu tak perlu berkompetisi. Sebaliknya, seiring dengan bertumbuhnya kesadaran, niscaya setiap pejalan spiritual kian tergerak untuk bekerja bersama, kolaborasi, guyub rukun.

Pada tataran praktis, ada satu hukum yang membingkai proses kolaborasi ini: ia hanya terjadi secara paripurna pada mereka yang selaras vibrasinya. Maka, kita memang tak bisa berkolaborasi dengan semua orang. Tapi kita harus berkolaborasi dengan semua yang selatas, yang masing2nya bisa hidup dalam kerendahan hati, memberi ruang bagi peran orang lain yang punya talenta dan kontribusi berbeda dibanding kita.

Saat ini, Nusantara membutuhkan kiprah dan kolaborasi nyata dari jiwa-jiwa yang tekun menyelami keheningan. Masalah besar bangsa ini tak bisa dibereskan satu dua orang sehebat apapun. Hanya kolaborasi, GOTONG ROYONG, yang jadi kunci untuk mengubah nasib bangsa ini menjadi bangsa pemenang, menjadi negeri yang gemah ripah.

#VivaRepublikIndonesia
#indonesiagemahripah
#mahadayasuwung
#selamatkangenerasibangsamu

Recent Comments

Diberdayakan oleh Blogger.